Ruang Migran

Register

Cover Story - August 8, 2022

Jalan Sunyi Lia yang masih Tertutup Misteri  

Barangkali Lia sedang pergi jauh meninggalkan keluarga dan sanak saudara tanpa sepatah kata. 

***

Namanya Lia Binti Aep Hindi (33). Dia berangkat mengadu nasib dari Desa Cikancana, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, ke Arab Saudi, pada 22 Januari 2010 silam. Namun hingga sekarang tidak diketahui keberadaannya.

Pihak keluarga sempat menerima kabar bahwa Lia telah pergi untuk selama-lamanya di Arab Saudi. Hal yang membuat keluarga terpukul, Lia dikabarkan meninggal dengan cara gantung diri.

Namun pihak keluarga merasa ada hal yang janggal. Bahkan kabar tersebut tidak disertai bukti-bukti otentik yang menunjukkan indikasi kuat bahwa Lia meninggal bunuh diri.

Pihak keluarga menyayangkan, kasus yang menimpa Lia ini tidak mendapatkan penanganan secara baik. Malah pemerintah terkesan membiarkan permasalahan ini berlarut-larut tanpa penyelesaian secara jelas. Apabila benar meninggal, keberadaan jenazahnya tidak diketahui secara pasti.

Kartika, kakak ipar Lia, meminta pemerintah Indonesia membantu penyelesaian permasalahan ini. Bahkan pihak keluarga menemukan sejumlah kejanggalan dan curiga bila Lia meninggal akibat dibunuh. Pihak keluarga juga memperoleh informasi yang menyebut adanya dugaan bahwa jenazah Lia masih berada di sebuah rumah sakit di Arab Saudi.

“Saya memohon kepada Presiden Joko Widodo, Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Arab Saudi untuk membantu penanganan kasus kematian adik ipar saya yang bernama Lia Binti Aep Hindi. Selama hampir empat tahun masalah ini berlarut-larut dan tidak ada kejelasan,” ungkap Kartika, Selasa (19/7/2022).

Mengapa pihak keluarga tidak percaya disebut bahwa Lia meninggal bunuh diri? Kartika menjelaskan bahwa sejauh ini tidak ada bukti forensik maupun hasil autopsi yang mendukung kesimpulan itu.

Kartika mengadu dan meminta pendampingan kepada Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) untuk mengawal kasus ini. Dalam Surat Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) kepada Unit Pelaksana Teknis (UPT) BP2MI Bandung Nomor B 117/PL-MA/II/2019 tertanggal 19 Februari 2019, Lia disebut meninggal karena gantung diri di Arab Saudi.

“Kami menilai banyak hal janggal. Salah satunya, Lia diduga meninggal sejak 18 Juli 2018, tapi baru dilaporkan 19 Februari 2019. Anehnya, pihak keluarga tidak pernah menerima penjelasan resmi dan langsung oleh pemerintah yang berwenang,” katanya.

Informasi yang diperoleh pihak keluarga tidak langsung disampaikan kepada keluarga, tetapi melalui pihak Pemerintah Desa Cikancana. “Dari petugas P4TKI Sukabumi (sekarang UPT BP2MI Sukabumi) yang disampaikan melalui pesan WhatsApp,” katanya.

Apabila benar Lia telah meninggal, lanjut dia, pihak keluarga meminta agar pemerintah membantu pemulangan jenazah. “Kami sempat mendatangi UPT BP2MI Sukabumi didampingi kepala desa untuk meminta bantuan pemulangan jenazah. Namun hingga sekarang tidak ada tindakan lebih lanjut,” katanya.

Selain tidak ada kejelasan mengenai penanganan atas kabar kematian tersebut, hak gaji Lia selama hampir sembilan tahun bekerja tidak dibayarkan. “Lima tahun sejak keberangkatannya ke Arab Saudi, Lia hanya dua kali berkomunikasi dengan keluarga. Komunikasi terakhir pada 2015. Yang kami sayangkan, keluarga Lia tidak pernah menerima penjelasan resmi dari pemerintah,” ujar dia.

Lia berangkat ke Arab Saudi pada 22 Januari 2010 silam, melalui calo penyalur tenaga kerja (mereka menyebutnya ‘sponsor’) bernama Agus dan Didin, yakni PT Abdi Bela Persada.

Sekretaris Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Bobi Anwar Ma’arif mendesak agar pemerintah Indonesia harus segera menuntaskan permasalahan ini. “Perwakilan pemerintah Indonesia di Arab Saudi harus berani mengungkap penyebab kematian Lia secara transparan. Informasi yang saya dapat, bahkan jenazah Lia masih berada di salah satu rumah sakit. Meskipun informasi ini masih perlu dilakukan klarifikasi lebih lanjut,” katanya.

Perwakilan pemerintah Indonesia juga harus mendapatkan keterangan dari pihak rumah sakit terkait hasil investigasi medis jenazah untuk memeriksa penyebab kematian Lia.

“Jika meninggalnya Lia karena dibunuh, maka perwakilan pemerintah Indonesia harus berani menuntut pidananya. Perwakilan pemerintah Indonesia harus memfasilitasi pemulangan jenazah,” tegasnya.

Berdasarkan Undang-Undang (UU), lanjut Bobi, perusahaan berkewajiban untuk memulangkan jenazah Pekerja Migran Indonesia yang telah diberangkatkannya.

“Selain itu juga harus menjelaskan penyebab meninggalnya dan mengurus hak gaji dan santunan asuransinya. Pemenuhan hak gaji Lia selama 8 tahun lebih, yakni kurang lebih 96.000 Riyal atau setara kurang lebih Rp 383.617.141 harus diberikan,” ungkap dia. (*)